Showing posts with label artikel. Show all posts
Showing posts with label artikel. Show all posts

Wednesday, 21 December 2016

Kami Tak Mengenal "Om Telolet Om"

foto: berbagaigadget.com
Saat "om telolet om" membahana di seluruh media sosial, kami di sini malah kebingungan mencari artinya. Beruntunglah karena ada internet. kalau tidak, maka selamanya kami akan terus bertanya. Istilah "om telolet om" memang tidak terkenal di perbatasan. Teriakan ini hanya terdengar di jalan-jalan raya yang dilalui bus. Biasanya diteriakkan oleh anak-anak kecil. Jadi tidak mungkin anak-anak di perbatasan seperti kami pernah mendengarnya. Bus saja jarang kami lihat.
Anehnya, teman-teman kami ikut membuat status yang sama dengan anak-anak kota. Mereka terbawa viralisme. Semacam pengendalian pikiran. Koneksi on line membuat otak juga on line. Entah di mana servernya, entah siapa mereka dan entah bagaimana caranya. Begitu mudahnya kita di bawa dalam satu arus yang sama. kami yang lebih suka mendengar suara perahu nelayan yang datang membawa hasil tangkapan, tiba-tiba dipaksa dunia untuk mendengarkan suara klakson bus. 
Ini semakin mengkhawatirkan. bisa -bisa kita digiring pada kebodohan dan pembodohan, saat viralisme ini semakin kuat dalam pemikiran . Hanya dengan dua sampai tiga kata, kita kemudian lupa pada kesenjangan kita dan negara tetangga. 
Aksi ikut-ikutan sudah terlalu banyak akhir-akhir ini. cukup sudah. Kami ingin menjadi penemu, bukan penjiplak. Ajarilah kami hal-hal baik. Bangkitkanlah kami dari kebodohan
by admin

Friday, 16 December 2016

MELAWAN DEKADENSI MORAL DENGAN PENDIDIKAN KESADARAN KRITIS


Oleh : Angga Passakanawang

Kisah Karin Novilda, seorang remaja putri yang mengumbar foto vulgar di sosial media, memamerkan tattoo, bahkan memposting kata-kata kasar yang tidak pantas, menjadi viral di pertengahan tahun 2016. followersnya yang di dominasi oleh remaja dan anak-anak membuat ia di hujat sebagai perusak moral bangsa. Fakta yang mengejutkan bahwa Karin Novilda adalah peraih nilai ujian nasional (UN) Matematika SMP tertinggi tahun 2013. Kisah ini adalah refleksi bahwa pola pendidikan saat ini belum mampu menjadi tameng dekandensi (kemerosotan) moral. Pengaruh agama, kebudayaan, ekonomi, dan bahkan politik menjadi faktor yang perlu di perhatikan dalam konteks pendidikan. Karena faktor-faktor tersebut mempengaruhi gaya belajar dan pola pikir terhadap tujuan pendidikan bagi peserta didik. Tidak jarang kita mendapati peserta didik yang mempelajari pelajaran hanya sebatas pelajaran wacana untuk menyelesaikan soal ujian, bukan untuk diaplikasikan dalam dunia nyata. Nilai-nilai mata pelajaran tinggi menjadi simbol kecerdasan walaupun tidak sejalan dengan kenyataan. Oleh karena itu, mari kita sepakati bahwa pendidikan yang bermakna adalah pendidikan yang menyentuh “kesadaran”.
Apa itu kesadaran?
Kesadaran merupakan sesuatu yang terletak di akal. Oleh sebab itu, kesadaran hanya dimiliki oleh manusia karena manusialah satu-satunya makhluk yang memiliki akal. Kesadaran adalah kemampuan untuk menyadari, kemampuan untuk mempersepsi sesuatu yang ada. Tiga unsur pendidikan yang berperan strategis dalam membangun kesadaran adalah pendidik, peserta didik dan realitas dunia. Suasana peserta didik yang hanya sibuk bergelut dengan buku teks pelajaran tanpa terlibat pada aktifitas nyata adalah pembelajaran yang akan melahirkan generasi terasing. Produknya adalah anak petani bersekolah tapi tidak memahami pertanian, para wanita berpendidikan tinggi malah tidak bisa memasak ataupun lulusan pendidikan yang menunggu pekerjaan bukan menciptakan lapangan kerja.
Paolo Freire, ahli pendidikan yang pernah menjadi menteri pendidikan Brasil membagi kesadaran menjadi kesadaran magis (magical consciousness), kesadaran naïf (naival consciousness), dan kesadaran kritis (critical consciousness).
1.       Kesadaran magis yakni suatu kesadaran masyarakat yang tidak mampu melihat kaitan antara satu faktor dengan faktor lainnya. Misalnya masyarakat miskin yang tidak mampu melihat kaitan antara kemiskinan mereka dengan sistem politik dan kebudayaan. Kesadaran magis lebih melihat faktor di luar manusia (natural maupun supranatural) sebagai penyebab dan ketidakberdayaan.
2.       Kesadaran naif, keadaan yang dikatagorikan dalam kesadaran ini adalah lebih melihat aspek manusia menjadi akar penyebab masalah masyarakat. Dalam menganalisis kenapa masyarakat miskin, karena disebabkan kesalahan merekaa sendiri: yakni malas, tidak memiliki jiwa entrepreneur, bodoh dan lain sebagainya.
3.       Kesadaran kritis, kesadaran ini lebih melihat aspek sistem dan struktur sebagai sumber masalah. Pendekatan struktural menghindari “blaming the victims” dan lebih menganalisis. Untuk secara kritis menyadari struktur dan sistem sosial, politik, ekonomi budaya dan akibatnya pada keadaan masyarakat
Tahap kesadaran kritis adalah tahap kesadaran puncak dimana seorang peserta didik memandang segala persoalan dengan refleksi kritisnya. Kesadaran kritis melibatkan otak dalam prosesnya. Cara kerja otak manusia lebih cenderung kepada pengulangan. Apabila sebuah kegiatan diulang terus menerus, maka otak akan lebih mudah memprosesnya. Olehnya itu, membangun kesadaran kritis haruslah melalui proses yang berlangsung terus menerus yaitu siklus berpikir, bertindak, berpikir lagi, bertindak lagi dan seterusnya.
Belajar dari realitas
Unsur yang menjadi objek dalam pendidikan kesadaran kritis adalah belajar dari realitas, yakni belajar yang lebih mengedepankan kepada pengalaman-pengalaman belajar, bukan dari hasil mendengarkan saja. David Kolb, seorang ahli pendidikan Amerika Serikat mengatakan bahwa ada empat kebutuhan yang harus dimiliki oleh peserta didik yaitu :
1.       Melakukan pengalaman nyata, terlibat penuh, terbuka dan tidak berprasangka pada pengelaman barunya
2.       Mencermati dan merefleksikannya, yaitu merefleksikan dan menyimak pengalaman dengan berbagai perspektif
3.       Konseptualisasi abstrak, membentuk konsep yang menyatukan pencermatannya kedalam teori logis
4.       Bereksperimen secara aktif, menggunakan teori tersebut untuk membuat keputusan dan menyelesaikan masalah
Empat kebutuhan ini haruslah di padukan secara komprehensif untuk menghasilkan pembelajaran bermakna. Kegagalan belajar yang sering muncul dalam kegiatan ekperimen diakibatkan lemahnya refleksi setelah melakukan kegiatan itu. Sehingga ekperimen hanya bersifat ritual yang berlalu tanpa ada kebermaknaan yang di dapat.
Dalam pembelajaran kesadaran kritis, pendidik dan peserta didik berada pada subjek (pelaku) yang sama sebagai pembelajar. Artinya, diskusi atau dialog lebih di utamakan dalam setiap penyelesaian masalah. Pendidik berperan sebagai fasilitator bukan sebagai sumber informasi. Peserta didik tidak dijadikan objek (sasaran perlakuan) dalam belajar. Belajar dari realitas atau pengalaman bukan mempelajari “ajaran” (teori, pendapat, kesimpulan, wejangan, nasehat, dan sebagainya) dari seseorang, tetapi keadaan nyata masyarakat atau pengalaman seseorang atau sekelompok orang yang terlibat dalam  keadaan nyata tersebut. Akibatnya, tidak ada otoritas pengetahuan seseorang lebih tinggi dari yang lainnya. Keabsahan pengetahuan seseorang ditentukan oleh pembuktiannya dalam realitas tindakan atau pengalaman langsung, bukan pada retorika  teoritik atau “kepintaran omong” nya.
Kesadaran kritis peserta didik akan menjadi filter terhadap penjajahan budaya, ekonomi, politik bahkan agama yang telah hadir nyata di hadapan mereka. Sebagian ide pokok pendidikan kesadaran kritis sebenarnya telah melekat dalam kurikulum pendidikan kita. Akan tetapi, gagasan-gagasan yang dogmatis masih dijumpai pada beberapa teori maupun prakteknya. sehingga tidak jarang pendidik mendapati kebisuan dalam diskusi kelas.
Jangan sampai generasi kita mejadi generasi yang terbiasa disuap dengan pengetahuan, terbiasa menjadi pengikut akibat pola pendidikan yang menjinakkan. Sungguh fatal jadinya, karena di era teknologi informasi, generasi muda mengintip melalui media dan lingkungan, bagaimana kekerasan, perselingkuhan, video vulgar bahkan lobi-lobi masuk sekolah adalah hal biasa. Hukum Pengaruh atau  Law of Effect Thorndike, menjelaskan bahwa jika suatu tindakan diikuti oleh perubahan yang memuaskan dalam lingkungan, kemungkinan bahwa tindakan itu akan diulangi menjadi lebih besar. Tetapi bila hasil yang diperoleh tidak memuaskan maka kemungkinan tindakan tersebut tidak akan diulangi. Merujuk teori ini, maka kemungkinan besar mereka akan menduplikasi kejadian-kejadian itu karena dianggap lebih menyenangkan dan lebih praktis. Mereka menjadi fotocopy dari generasi sebelumnya, hingga pada saat berkuasa, mereka hanya menggantikan simbol kekuasaan masa lalu tanpa perkembangan yang berarti.

MENGENAL FISIKA DAN TIPS BELAJAR

Kabar nunukan.co, 13 Juli 2016

Oleh Angga Passakanawang


Fisika adalah ilmu yang mempelajari gejala alam tidak hidup dalam lingkup ruang dan waktu. Aplikasi fisika sendiri dapat dilihat pada kemajuan teknologi sekarang ini seperti lampu, laptop, pembangkit listrik dan masih banyak lagi. Pengetahuan fisika adalah pengetahuan yang di bangun (konstruktivisme). Ilmunya dipelajari mulai dari yang sederhana sampai rumit, sehingga sangat penting untuk memahami pondasinya. Pondasi utama dalam pelajaran ini adalah kemampuan kita dalam mengenal besaran dan satuan, dilanjutkan dengan kemampuan mengukur dengan berbagai alat ukur. Selanjutnya adalah memahami konsep hukum-hukum atau aturan-aturan dan persamaannya. Tahap yang lebih rumit adalah  menghubungkan berbagai konsep dan persamaan dalam sebuah kejadian. Terbangunnya pemahaman fisika sangat tergantung juga pada kemauan dan usaha kita mempelajarinya.
Kebanyakan pelajar terkendala pada persamaan-persamana fisika yang jumlahnya tidak sedikit. Untuk mengatasi itu, Professor Yohanes Surya menggunakan istilah “titik kritis” dalam belajar. Yang dimaksud dengan titik kritis belajar adalah keadaan dimana pelajaran melekat di dalam diri dan sulit untuk dilupakan. Sama seperti ketika kita membengkokkan kayu, apabila mencapai titik kritis, maka kayu tersebut akan patah dan tidak bisa kembali kebentuk semula. Hal lain yang menyebabkan kegagalan dalam belajar fisika adalah pola pikir negatif yang berkembang dikalangan pelajar bahwa fisika itu adalah hal yang sulit, padahal fisika sebenarnya adalah pelajaran yang mudah jika kita mempelajarinya dengan metode yang tepat. Titik kritis dalam pelajaran fisika adalah ketika kita mengetahui mengapa sebuah persamaan atau rumus digunakan. Dengan mengetahui mengapa, maka rumus atau persamaan yang pernah kita pelajari akan teringat dengan sendirinya begitu kita membaca soal. Sebagai contoh, pada persamaan momentum (P = m x v) dimana P adalah momentum, m adalah massa dan v adalah kecepatan, mengapa di gunakan rumus tersebut? Jawabannya, karena efek kerusakan dalam sebuah tabrakan di pengaruhi oleh massa benda dan kecepatan benda itu.
Beberapa pengetahuan abstrak dalam ilmu fisika memerlukan kajian matematika dalam penyelesaian persamaannya. Pengetahuan tentang penjumlahan, pengurangan, pembagian dan perkalian adalah matematika dasar yang menjadi modal dalam penyelesaian persoalan fisika. Jika fisika diibaratkan sebuah mesin, maka matematika berperan sebagai olinya. Akan tetapi, tidak semua konsep fisika harus diselesaikan dengan bahasa matematika. Cara sederhana dalam mengukur kemampuan matematika anak pada pendidikan dasar adalah dengan menggunakan jari tangan. Menunjukkan jari kemudian meminta anak tersebut menyebutkan jumlah jari yang dilihatnya. Jari-jari yang kita tunjukkan haruslah variatif. Contohnya memperlihatkan angka satu tidak boleh hanya terpaku pada jari telunjuk saja tetapi bisa menggunakan jari yang lain. Demikian juga dengan angka-angka yang lain. Tujuannya agar konsentrasi anak bukan pada wujud melainkan pada jumlah yang di tunjukkan. Kecepatan seorang anak menyebutkan jumlah jari yang kita tunjukkan, menunjukkan kemampuan matematikanya yang relatif baik.
Menghitung dan menggunakan persamaan dalam fisika sama seperti sepak bola. Kita tidak akan pernah bisa bermain sepakbola jika kita hanya menghabiskan waktu untuk menonton tanpa bermain. Kuncinya adalah banyak berlatih mengerjakan soal. Tentunya hal ini tidak dicapai dalam waktu yang singkat. Belajar disekolah saja tidak cukup. Beberapa langkahyang dapat dilakukan ketika berlatih mengerjakan soal-soal di rumah sebagai berikut :
1.       Berdo’a
Berdo’a sebelum dan sesudah belajar akan memberikan kekuatan batin kepada seseorang sehingga dalam proses belajarnya selalu terarah pada hal-hal yang positif.
2.       Mengetahui motivasi belajar
Motivasi belajar sangat beragam bagi setiap pelajar, ada yang termotivasi untuk meningkatkan kesejahteraan hidup, menggapai cita-cita, membanggakan orang tua, ingin menuntaskan pelajaran tertentu dan lain sebagainya. Dengan mengetahui motivasi belajar, kita tidak akan mudah bosan dalam belajar sesuatu.
3.       Menetapkan target
Segala bentuk kegiatan tentu mempunyai target, tidak terkecuali dalam belajar. Target belajar harus di tetapkan agar kita bisa belajar dengan terarah atau fokus pada yang diharapkan. Misalnya, minggu ini ingin lancar melakukan konversi satuan massa. Maka belajarlah sampai target yang diinginkan benar-benar terpenuhi, dalam artian lancar melakukan konversi satuan.
4.       Membagi waktu
Membagi waktu itu sangat penting. Kebanyakan pelajar gagal dalam belajar karena kehilangan waktu belajarnya. Apabila kita ingin sukses belajar maka kita harus bisa membagi waktu kapan harus bermain, bercanda dengan teman-teman, kapan waktu untuk belajar dan yang paling penting juga adalah menyediakan waktu untuk istirahat. Sebaiknya waktu istirahat dalam belajar tidak lebih dari 30 menit. Dalam membagi waktu belajar, di upayakan untuk tidak menggeser-geser waktu belajar.
5.       Mengumpulkan referensi
Referensi juga adalah hal utama dalam belajar. Semakin banyak referensi yang dimiliki, maka semakin besar pula peluang untuk sukses dalam belajar. Referensi bisa di dapatkan di perpustakaan, catatan sekolah, ataupun melalui internet.
6.       Memilih waktu dan tempat belajar yang tepat
Waktu dan tempat belajar yang tepat adalah waktu dimana kita bisa belajar dengan nyaman tanpa ada gangguan. Otak kita bekerja dengan mengumpulkan informasi kemudian menyimpannya pada saat tidur. Sehingga beberapa ahli menyarankan bahwa waktu belajar yang baik adalah sebelum dan sesudah tidur
7.       Memahami gaya belajar sendiri
Gaya belajar seseorang sangat bervariasi, ada orang  yang hanya dengan membaca bisa memahami pelajarannya, ada juga orang yang butuh gambar (visual) atau suara untuk memahami pelajarannya. Apabila seseorang mampu mengetahui cara belajarnya maka materi apapun dengan cepat dapat di pahami.
8.       Bertanyalah kepada yang lebih tahu
Pepatah klasik mengatakan malu bertanya sesat di jalan. Hal ini berlaku juga dalam belajar. Jika kita mengalami kesulitan lebih baik untuk bertanya kepada guru, teman, orang tua atau siapa saja yang lebih tahu persoalan itu.
Tidak ada pelajaran yang dapat di pahami secara instan. Semuanya membutuhkan usaha yang maksimal. Apakah kita harus diam dengan kemampuan kita sekarang? Tentu saja tidak, karena manusia haruslah selalu belajar dan belajar

PENDIDIKAN KARAKTER BUKAN HANYA TANGGUNG JAWAB GURU

Kabar nunukan.co, 3 Juli 2016
Oleh :   Angga Passakanawang



Berbagai kasus negatif yang melibatkan pelajar seperti tidak ada habisnya. Derasnya arus informasi yang terus merongrong kebudayaan bangsa seperti tak terbendung. Hanya melalui drama saja, pengaruh budaya luar sudah bercokol di generasi muda kita. Penjajahan budaya ini bukanlah hal baru, karena di era 90-an pun budaya India melalui film-filmnya juga berhasil menguatkan pengaruhnya kepada generasi saat itu. Hal ini memberi kesan bahwa kita adalah bangsa yang kehilangan karakter dasarnya.
Berangkat dari hal tersebut, pemerintah mencanangkan pendidikan karakter untuk menguatkan pondasi jati diri bangsa. Ada 18 nilai-nilai karakter yang ingin dikembangkan menurut Puskur Depdiknas 2010, yaitu : Religius, Jujur, Toleransi, Disiplin, Kerjakeras, Kreatif, Mandiri, Demokratis, Rasa Ingin Tahu, Semangat Kebangsaan, Cinta Tanah Air, Menghargai Prestasi, Bersahabat/Komunikatif, Cinta Damai, Gemar Membaca, Peduli Lingkungan, Peduli Sosial, dan Tanggung Jawab; namun, tentu saja program ini bukanlah ilmu sihir yang serta merta mengembalikan karakter bangsa yang memudar.
Implementasi dari pendidikan karakter haruslah dibarengi dengan usaha yang masif, dimana sumber daya manusia sebagai penggerak pendidikan perlu disiapkan lebih dahulu. Mempersiapkan SDM guru dalam mengembangkan pendidikan karakter bukanlah hanya berpijak pada kuantitas tapi juga harus memperhatikan kualitas. Pendekatan kuantitas yang hanya menutupi kekurangan jumlah tidak akan efektif tanpa di barengi dengan peningkatan kompetensi. Tapi, tidak mungkin juga persoalan kualitas ini bisa dipecahkan apabila tidak ada data yang akurat tentang kualitas itu sendiri. Penyimpangan data akan mengakibatkan penyimpangan dalam kebijakan. Sangat diperlukan sebuah pemetaan kemampuan guru dalam melaksanakan pendidikan karakter sebelum kita benar-benar melaksanakan pendidikan karakter itu.
Keberhasilan pendidikan karakter juga dipengaruhi oleh jenis informasi yang diserap oleh anak di lingkungannya. Menurut Qurais Shihab, situasi kemasyarakatan dengan sistem nilai yang dianutnya, memepengaruhi nilai sikap dan cara pandang masyarakat secara keseluruhan. Pola pikir materialistis (hanya mementingkan uang) yang berkembang akhir-akhir ini, dikhawatirkan mempengaruhi pola pikir anak terhadap pendidikan bahwa pendidikan hanyalah semata-mata untuk mencari uang saja. Melenceng dari tujuan pendidikan sesungguhnnya yaitu mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia seutuhnya. Peran orang tua dan tokoh-tokoh masyarakat tentunya tidak semata-mata memberi nasehat saja. Namun juga sebagai teladan dengan pendekatan keagamaan maupun etika-etika budaya.  
Internet  sebagai salah satu sumber belajar juga bagai pisau bermata dua yang memberi efek positif jika di gunakan sebagaimana mestinya tetapi juga bisa berefek negatif jika digunakan sebaliknya. Dari internetlah berkembang trend negatif yang diikuti oleh remaja. Kita patut mengapresiasi usaha-usaha Kementerian Komunikasi dan Informatika, dalam memblokir situs-situs negatif. Walaupun masih ada saja situs yang lolos dari pemblokiran. Setidaknya usaha tersebut meringankan tugas orang tua dan guru mendampingi anak berselancar di dunia maya. Menutup akses anak terhadap internet pun bukanlah tindakan bijak mengingat tuntutan untuk mengikuti perkembangan teknologi dan informasi. Anak yang tertutup aksesnya kedunia informasi akan gagap teknologi alias gaptek. Mereka akan tereliminasi di masa yang akan datang.
Faktor lain yang tidak kalah pentingnya adalah dukungan dari pemangku jabatan di dunia pendidikan. Kebijakan-kebijakan yang mendukung terealisasinya pendidikan karakter secara menyeluruh sangat di harapkan untuk menggerakkan birokrasi dan stakeholder di sekolah-sekolah. Menciptakan iklim birokrasi yang menjunjung tinggi nilai-nilai karakter bangsa. Perbaikan gedung-gedung sekolah yang roboh, pembangunan sekolah-sekolah baru, dan berbagai renovasi-renovasi fisik di bidang pendidikan , tidaklah dipandang sebagai sebuah komoditas tetapi hendaknya juga mengacu pada pembangunan manusia.
Semoga dengan implementasi pendidikan karakter di sekolah-sekolah yang didukung oleh masyarakat dan pemangku kepentingan, kita dapat mengembalikan jati diri bangsa yang dilandasi oleh patriotisme dan rasa cinta tanah air.

KERASNYA TANTANGAN PENDIDIKAN DI PERBATASAN INDONESIA-MALAYSIA

Oleh : Angga Passakanawang

Indonesia adalah negara besar  dengan Jumlah pulau sebanyak 13.487 terdiri dari pulau besar dan kecil. Beberapa Pulau-pulau kecil yang sebagian berpenghuni dan sebagian lagi tidak berpenghuni ini, ada yang berbatasan langsung dengan negara tetangga. Salah satunya adalah Pulau Sebatik. Pulau yang terletak di wilayah Kabupaten Nunukan Provinsi Kalimantan Utara ini, terbagi menjadi dua bagian yaitu Sebatik Malaysia dan Sebatik Indonesia. Dari Pulau Nunukan, diperlukan perjalanan sekitar 20 menit menuju Pulau Sebatik dengan menggunakan perahu kayu. Kontrasnya pembangunan dua negara terlihat jelas di pulau ini. Gedung-gedung kota Tawau terlihat sangat berbeda dengan kondisi bangunan kota Kecamatan Sebatik. Apalagi pada malam hari, dari Pulau Sebatik terlihat kerlap-kerlip lampu Kota Tawau, sementara di Sebatik sendiri hanya lampu temaram. Keterbatasan dalam berbagai aspek sudah menjadi rahasia umum untuk wilayah perbatasan ini, akibat pola pembangunan yang sentralistik di masa lalu.  
Pendidikan di perbatasan sebatik belum bisa dikatakan memadai. Persoalan pendidikan ini sangat penting mengingat pendidikan itu sendiri merupakan ujung tombak peradaban bangsa. Sedemikian pentingnya pendidikan, hinggga diamanatkan dalam Undang-undang Dasar 1945 pasal 31 ayat 2 yang berbunyi “setiap warga negara wajib mengikuti pendidikan dasar dan pemerintah wajib membiayainya”, tidak terkecuali di wilayah perbatasan maupun warga negara Indonesia yang ada di luar negeri.
Tantangan pendidikan di perbatasan Indonesia-Malaysia menjadi lebih kompleks akibat Malaysia adalah salah satu negara tujuan utama Tenaga kerja Indonesia (TKI) baik legal maupun Ilegal, para TKI tersebar di kamp-kamp perkebunan atau tinggal dirumah-rumah majikan. Tidak sedikit dari mereka yang telah berkeluarga dan memiliki anak usia sekolah. Anak-anak pekerja Indonesia ini tidak di terima di sekolah-sekolah kerajaan di Malaysia, sehingga pendidikan mereka bergantung pada sekolah Indonesia yang di siapkan oleh pihak kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) maupun beberapa LSM. Kebanyakan Sekolah anak TKI di perkebunan kelapa sawit itu setara dengan pendidikan non-formal atau Pusat kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) di Indonesia.
Cerita berbeda  untuk anak-anak TKI illegal, akses sekolah yang sangat terbatas akibat permasalahan izin tinggal,memaksa mereka mengirim anak-anak mereka ke wilayah – wilayah perbatasan atau kampung halaman untuk bersekolah. Beberapa anak TKI dikirim ke Pulau Sebatik dan Nunukan untuk mengenyam pendidikan formal. Sebagian dari mereka harus menyewa kontrakan atau tinggal dirumah keluarga. Walaupun di Nunukan dan Sebatik sudah dibangun asrama anak TKI, namun belum bisa mengatasi masalah yang ada karena asrama tersebut bertempat di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) sementara banyak anak TKI yang ingin bersekolah di SMA, SMP dan SD. Kemudian,  daya tampung asrama anak TKI hanya untuk 300 orang, sedang yang terdata oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Nunukan tahun 2014-2015 ada ribuan anak TKI yang bersekolah di Pulau Sebatik dan Nunukan. Tidak salah jika angka buta aksara tertinggi di Kabupaten Nunukan adalah di Pulau Sebatik yang di dominasi oleh anak TKI.
Selain permasalahan anak TKI, sekolah-sekolah perbatasan seperti halnya sekolah lain di pelosok Indonesia tidak luput dari kekurangan bahan bacaan, sehingga menjadi tantangan yang berat untuk memasyarakatkan budaya baca buku. Literatur-literatur yang memperkenalkan budaya Indonesia sangat diperlukan di wilayah perbatasan, mengingat pengaruh yang besar dari budaya Malaysia. Contoh pengaruh budaya Malaysia di sekolah-sekolah perbatasan Sebatik adalah populernya tari semajau dikalangan pelajar, padahal tari semajau itu sendiri adalah tarian asal Sabah Malaysia. Contoh lain adalah adanya lambang-lambang pramuka negara tetangga yang dijual di pasar-pasar rakyat, bahkan ada yang sampai digunakan oleh para pelajar. Bukan hanya itu, perlengkapan tulis menulis berbendera Malaysia pun banyak beredar dan di gunakan oleh para pelajar.
Tidak cukup ancaman Nasionalisme yang terus dirongrong, para pelajar Sebatik juga rentan terhadap pengaruh obat terlarang, karena Sebatik adalah daerah yang berbatasan darat dengan negara tetangga, sehingga menjadi jalur utama sindikat narkoba internasional. Data dari Kepolisian menunjukkan, sampai Oktober 2015 tahun lalu saja, sebanyak 65 kasus narkoba ditangani oleh polres nunukan dan terus meningkat setiap bulannya. Sungguh. Angka yang terbilang tinggi untuk kota kabupaten. Yang lebih memperihatinkan, para sindikat ini tidak segan menggunakan jasa anak usia sekolah sebagai kurir.
Di sisi lain, terbentuknya provinsi Kalimantan Utara menyebabkan penurunan anggaran pendidikan sejak tahun 2015 dari Rp 300 milyar menjadi Rp 240 millyar. Sehingga berdampak pada pengurangan kegiatan bimtek dan pelatihan untuk meningkatkan kompetensi guru. Di susul pengurangan pembangunan sarana dan prasarana di berbagai lembaga pendidikan baik formal maupun non-formal. Sungguh ironis tentunya, mengingat derasnya tantangan dalam bidang pendidikan justru dibarengi oleh pengurangan anggaran.
Menurut penulis, untuk mengmenghadapi tantangan-tantangan tersebut di perlukan berbagai langkah yang signifikan oleh seluruh elemen masyarakat Indonesia diantaranya : Pertama, menyediakan pendidikan yang layak bagi anak TKI yang bekerja di Malaysia terutama TKI ilegal, karena orang tua mereka tidak sanggup membiayai pendidikan yang tinggi dengan gaji di bawah standar. Kedua, membangun pusat-pusat membaca di Pulau Sebatik dengan literatur-literatur budaya dan wawasan kebangsaan Indonesia agar terbangun jiwa nasionalisme yang kuat. Ketiga, sosialisasi lebih aktif tentang bahaya narkoba di kalangan pelajar dari tingkat dasar baik dengan pendekatan keagamaan, dengan pendekatan kesehatan dan pendekatan hukum. Keempat, meningkatkan kualitas dan kuantitas pendidik dan tenaga kependidikan Dalam upaya membentuk karakter kuat bagi pelajar di daerah perbatasan.

Thursday, 15 December 2016

PENDIDIKAN KITA MASIH BERJUANG

Edisi Cetak Radar Tarakan, 16 Agustus 2016

Oleh : Angga Passakanawang


Sekolah sebagai wadah untuk memanusiakan manusia (humanisasi) adalah semboyan lama yang penulis dengar sejak sekolah dasar. Humanisasi dalam pendidikan berarti membentuk manusia-manusia merdeka, jauh dari pemaksaan. Pendidik dan peserta didik adalah subjek (pelaku) dalam belajar sedangkan Ilmu pengetahuan yang diberikan adalah objek (diperlakukan). Pendidik menfungsikan diri sebagai fasilitator pembelajaran sehingga pelaksanaan pembelajaran lebih dialogis. Pendidikan yang memanusiakan manusia bukanlah pendidikan yang mengisi “botol kosong”. Menganggap peserta didik adalah objek yang harus diperlakukan. Hubungan pendidik dan peserta didik model “botol kosong“ inilah yang merenggut kemerdekaan berfikir, sulit untuk keluar dari otoritas ilmu yang ada. Model pendidikan ini hanya jadi pengikut teori lama bukan penemu teori baru akibat proses berfikir kritis yang dimatikan.
Harus diakui, model belajar “botol kosong” masih ditemui dalam pembelajaran sekolah. Pembelajaran klasikal dalam kelas yang sesak, membuat belajar menjadi rutinitas yang melelahkan. Peserta didik selalu dianggap siap belajar, padahal mungkin saja ada diantara mereka yang masuk kelas dengan terpaksa. Bingung dengan tujuannya bersekolah. Merasa sekolah karena kewajiban usia, karena anak-anak seusianya juga bersekolah. Tidak ada pertanyaan apa dan mengapa, semuanya mengalir begitu saja. Mereka datang, mendengar, mengerjakan tugas, mengikuti ujian dan mendapatkan nilai bagus. Setelah itu kewajiban selesai. Seolah hanya robot-robot mekanik yang ketika diperintah melakukan dan ketika tidak ada perintah tidak bergerak. Pada saat pulang sekolah, mereka seperti bebas dari belenggu kerapian. Mereka berteriak kegirangan, baju sudah tidak dimasukan dalam celana lagi, dasi di tanggalkan, seolah memasuki dunia baru yang tidak ada hubungannya dengan dunia sebelumnya. Inilah dampak dari  Kegagalan peserta didik menghubungkan antara pelajaran dan realitas dunia. Mereka yang stress dengan masalah ekonomi, pergaulan remaja, kondisi keluarga dan masalah-masalah sosial lainnya, lebih disibukkan dengan dogma-dogma ilmu pengetahuan. Unsur-unsur dalam sekolah sangat berperan dalam kegagalan itu. Bahkan menurut Rhenald Kasali, Orang tua juga berperan akibat pola asuh yang terlalu memanjakan. Akhirnya, terlahirlah generasi yang takut mengambil keputusan dan hanya menunggu perintah dari atasan.
Tantangan lain yang membuat sekolah tidak menarik lagi adalah perkembangan pesat industri hiburan. Kata industri disini perlu digaris bawahi karena industri berarti penanaman modal besar, produksi yang tinggi dan meraup keuntungan sebanyak-banyaknya. Bukanlah hiburannya yang mengkhawatirkan, tetapi penjajahan budaya dibalik hiburan itu. Penggunaan teknologi menjadikan acara-acara hiburan lebih menarik dan menyenangkan untuk diikuti ketimbang belajar di sekolah. Belum lagi game-game yang jumlahnya ribuan dan dapat diunduh secara gratis, dikemas dalam kemasan menarik bahkan memaksa untuk bermain terus-menerus. Tidak salah memang, Sentuhan teknologi dalam pembelajaran kalah bersaing dengan teknologi hiburan. Pembangunan gedung baru, perbaikan sekolah atau penambahan jumlah guru ternyata bukanlah solusi utama dalam dunia pendidikan. kesemuanya itu seperti perbaikan bungkusan yang tidak memberikan perubahan berarti terhadap isi. Pendidik seperti pisau tumpul yang diasah sekali-kali saja.
Pembelajaran PAKEM (pembelajaran aktif, kreatif, efektif, dan menyenangkan) yang di perkenalkan sejak beberapa tahun yang lalu hanya tinggal omong besar di seminar, pelatihan guru, workshop, dan diskusi. Tidak betul-betul mengakar sampai akar paling dasar akibat pola penyampaian setengah-setengah yang melahirkan pemahaman setengah-setengah juga. Workshop misalnya yang seharusnya dilaksanakan tiga hari kadang dipadatkan menjadi dua hari. Materi dalam pelatihan-pelatihan pun cenderung pada penyelesaian administrasi, seperti membuat silabus, rencana pelaksanaan pembelajaran, instrument penilaian, model pembelajaran, dan segala bentuk materi non-filosofis. Tidak ada penekanan filosofis tentang tugas-tugas guru dan pendidikan. Bahkan pada sebuah pelatihan yang penulis ikuti tahun 2014, penyampaian-penyampaian materinya sangat dogmatis sehingga peserta tidak memahami akar masalah sebelum melakukan kegiatan.
Pendidikan kita masih berjuang dari keterpurukannya. Pendidik sedang berada dalam “perang suci” melawan industri hiburan yang menjajah kebudayaan. Memang tidak semua peserta didik mengalami masalah di sekolah. Ada juga peserta didik yang betul-betul antusias dengan tujuan-tujuan yang jelas, tetapi jumlahnya sedikit. Dalam satu kelas hanya sekitar 2 atau 3 orang. Setidaknya masih ada harapan. Jumlah kecil inilah yang masih menyisakan semangat para pendidik dalam tugasnya. Sisa semangat ini Hendaknya dimanfaatkan untuk terus belajar. Menjadi pendidik bukanlah berarti harus berhenti belajar. Optimisme harus selalu dijaga sebagai bahan bakar perubahan. Perubahan bagi pendidik adalah gerakan meng-upgrade kemampuan. Marilah kita memulai gerakan perubahan dengan membaca, menulis, bertindak dan berfikir.